Kesehatan

Publish date : 03/31/2021

Hai Sowbat, sering banget enggak sih kita berpapasan dengan orang batuk yang tidak menutup mulutnya di tempat umum? Biasanya apa yang kalian lakukan? Sebagian besar orang cenderung akan menjauhinya, takut tertular virus yang tidak bisa kita lihat dengan kasat mata. Apalagi virus batuk yang cukup menjengkelkan. Mudah menular, tetapi sulit untuk move on. Belum lagi kalau batuk kering yang sangat gatal di tenggorokan, membuat kita susah tidur, susah makan, bahkan berbicara pun sulit. Kalau sudah seperti ini, harus segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat ya Sowbat!

 

Ngomongin soal obat batuk, Sowbat ada di tim mana nih, apakah tim minum obat batuk pasaran yang dijual di warung bebas atau tim minum obat resep dari dokter? Atau, justru enggak minum obat batuk sama sekali karena percaya batuk akan sembuh dengan sendirinya? Wah, masa sih batuk bisa sembuh sendiri? Apalagi karena pandemi Covid-19 ini, orang batuk sangat diwaspadai karena takut tertular virus Covid-19, lho. Jadi, segera lakukan konsultasi dengan dokter jika Sowbat merasa tidak enak pada tenggorokan, flu, dan demam tinggi yang tidak kunjung turun ya. Tidak perlu datang ke rumah sakit atau klinik, tetapi cukup konsultasi online melalui GoApotik. Sowbat bebas pilih tanggal dan waktu, dan obat akan diresepkan oleh dokter melalui resep online. Lalu, bagaimana tebus obat resep dari dokternya? Tentu saja online di GoApotik. Namun, tidak menutup kemungkinan jika Sowbat ingin tebus obat resep dari apotek terdekat atau langganan. Cukup tunjukkan resep online dari GoApotik kepada apoteker.

Lalu, bagaimana dengan tim yang minum obat batuk bebas? Ada fakta menarik nih tentang obat batuk bebas yang dijual di pasaran. Sowbat sudah tahu atau pernah dengar belum tentang kombinasi obat batuk kering dan batuk berdahak? Ternyata ada lho jenis obat batuk kombinasi tsb. Sebelumnya, yuk cari tahu dulu mengenai pengertian batuk berdasarkan ilmu medis. Batuk merupakan aksi refleks sebagai pelindung ketika jalan napas sedang teriritasi atau terhambat. Tujuannya adalah untuk membersihkan jalan napas sehingga dapat kembali bernapas secara normal. Sebagian orang mungkin menganggap batuk adalah penyakit biasa dan tidak perlu pengobatan, tetapi tidak jarang juga yang merasa terganggu karena batuk yang tidak kunjung sembuh.


Baca juga: Rekomendasi Pereda Pilek dan Batuk yang Aman untuk Bayi


Jika dilihat dari jenisnya, terdapat dua jenis penyakit batuk yaitu batuk kering (batuk tidak produktif) yang tidak menghasilkan sputum (dahak). Batuk ini disebabkan oleh infeksi virus dan bagi kebanyakan orang, batuk kering dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting) dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Yang kedua adalah batuk berdahak (batuk produktif). Batuk ini ditandai dengan adanya dahak yang disebabkan oleh iritasi di saluran nafas yang berhubungan dengan infeksi atau alergi, dan lain sebagainya. Coba perhatikan, jika dahak yang Sowbat keluarkan tidak berwarna (jernih), maka batuk tersebut tidak disebabkan karena infeksi. Sedangkan yang berwarna, ada kemungkinan karena terdapat infeksi.

 

Cara Kerja Obat Batuk

Tidak sama dengan jenisnya, pengobatan batuk dapat dibagi menjadi tiga yaitu penekan batuk kering (antitusif), perangsang pengeluaran dahak (ekspektoran), dan pengencer dahak (mukolitik). Pengobatan ini kemudian disebut atau lebih dikenal sebagai golongan obat. 


Mekanisme kerja dari masing-masing golongan obat tersebut adalah:

  1. Obat penekan batuk kering (antitusif) bekerja secara langsung di pusat batuk untuk menekan reflek dari batuknya. Contoh dari golongan obat ini adalah noskapin, dekstrometorfan, dan codein
  2. Obat perangsang pengeluaran dahak (ekspektoran) yaitu obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran nafas. Terdapat dua mekanisme kerja dari obat ini, yang meliputi senyawa ini bertindak langsung dengan merangsang sekresi (pengeluaran) lendir bronkus sehingga menyebabkan peningkatan volume dan menurunkan viskositas (kekentalan) dahak agar lebih mudah untuk mengeluarkan dahaknya. Kedua, yang bertindak secara tidak langsung akan menstimulasi mukosa lambung selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran nafas melalui N. vagus, sehingga dapat menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Contoh dari golongan obat ini adalah guaifenesin (GG) dan amonium klorida.
  3. Obat pengencer dahak (mukolitik), bekerja dengan mengencerkan sekret saluran napas yang kemudian akan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum (dahak). Beberapa contoh obat mukolitik adalah bromheksin, asetilsistein, dan ambroksol

Melalui penjelasan mekanisme kerja ketiga golongan obat tersebut kita dapat meilhat bahwa masing-masing golongan obat bekerja dengan jalan yang sangat berbeda. Namun kenyataannya, mengapa ada jenis obat kombinasi batuk berdahak dan batuk kering ya?

 

Kombinasi Obat Batuk Berdahak dan Obat Batuk Kering

Jika kita memahami ilmu farmasi, secara teoritis penggabungan obat yang memiliki mekanisme aksi berkebalikan (antagonis) tidak diperbolehkan, karena akan memengaruhi efektifitas salah satu obat dan berdampak pada gagalnya terapi.  Berdasarkan literatur Blenkinsopp et al (2005) dan Rutter and Paul (2013) kombinasi atau gabungan kedua golongan obat yang berbeda mekanisme kerja ini tidak rasional dan harus sangat dihindari, karena ketika pasien menggunakan obat ini nantinya pengobatan tidak akan bekerja secara optimal. Hal ini dikarenakan di satu sisi batuk dari pasien ditekan sementara di sisi lain batuk dari pasien harus dirangsang untuk dikeluarkan dahaknya. Mekanisme kerja tidak saling mendukung, justru saling berlawanan satu sama lain. Namun, kondisi yang terjadi sekarang adalah ada produsen obat yang menggabungkan 2 golongan obat ini, bahkan sediaan obat-obatan tersebut sudah dijual dengan bebas dan sampai pada pasar menengah hingga kecil. 


Lebih menarik lagi jika kita telusuri kemungkinan alasan yang membuat terbentuknya jenis obat batuk kombinasi ini.

1. Beberapa pasien akan berkata kepada farmasis apabila mereka merasakan batuk yang tidak mengeluarkan dahak (batuk kering) walaupun sebenarnya mereka merasakan terdapat dahak yang tidak bisa keluar dari jalan nafasnya. Dengan kata lain, kita sendiri belum dapat membedakan apakah sedang mengalami batuk kering atau batuk berdahak, atau sebenarnya tidak sedang sakit batuk tetapi hanya merasa tidak nyaman di tenggorokan? Mungkin inilah salah satu alasannya. Produsen berpikir jika akan sangat baik menggabungkan 2 obat dari berbeda golongan tersebut. Pasien tidak perlu lagi menentukan secara spesifik jenis batuk apa yang sedang dialaminya.

 

2. Secara tidak langsung merupakan bagian dari strategi marketing. Produsen mencari peluang terbesar dari kondisi pasien yang kurang teredukasi akan penyakit batuk. Peluangnya adalah orang akan cenderung memilih obat kombinasi karena banyak dan lengkapnya kandungan obat akan segera mempercepat penyembuhan. Hal ini juga mendorong penggunaan obat gabungan/kombinasi dari antitusif dan ekspektoran semakin meningkat di pasaran.

 

3. Terdapat kontroversi argumen dari sisi ahli. Berdasarkan Katzug et al (2015) menjelaskan bahwa sediaan obat antitusif yang biasanya digabung dengan ekspektoran bertujuan untuk membuat sekresi saluran nafas menjadi lebih encer. Hal ini didukung oleh adanya pernyataan dari Jill A Grimes seorang Ahli Obat Keluarga yang menjelaskan bahwa obat ini dapat menghentikan (menekan) gatal kecil (batuk kecil) di saluran nafas yang mengganggu, tetapi memungkinkan pasien untuk batuk secara efektif dan dapat membersihkan paru-paru.

 

Jadi mana yang benar? Apakah sebenarnya obat batuk kombinasi itu aman untuk dikonsumsi atau tidak? Karena belum ada pernyataan resmi tentang aman atau tidaknya obat batuk kombinasi ini, yang paling aman adalah Sowbat lakukan konsultasi dengan dokter, apalagi jika batuk yang dialami tergolong parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Begitu juga jika Sowbat sudah mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari dua pekan, padahal sudah minum obat batuk bebas (yang bukan obat batuk kombinasi). Perlu konsultasikan dengan dokter segera ya! Akibat banyaknya aplikasi untuk dapat melakukan konsultasi online dengan dokter, Sowbat memiliki lebih banyak pilihan untuk berkonsultasi dimana, dengan siapa, dan berapa biaya yang akan dikeluarkan. Percayakan kesehatanmu pada ahlinya ya Sowbat! 

 

Dan ingat, jangan sekali-kali mengonsumsi obat antibiotik tanpa resep dokter, apalagi jika batuk sedikit langsung minum antibiotik, itu cara pengobatan yang salah. Antibiotik seharusnya diminum ketika sudah terjadi infeksi dan minum antibiotik itu harus dihabiskan.

Baca juga: Bahaya! Tidak Habiskan Antibiotik Dapat Sebabkan Bakteri Resistensi



References

Journals:

- Journal titled, “Symptoms In the Pharmacy” by Blenkinsopp, A., Paxton, P., and John B. Published by USA: Blackwell Publishing Inc., on 2005.

- Journal titled, "Basic and Clinical Pharmacology 13th Edition" by Katzug et al. Published by New York: Mc. Graw Hill., on 2015.

- Journal titled, “Community Pharmacy: Symptoms, Diagnosis and Treatment” by Rutter, Paul. Published by Churchill Livingstone Elsevier., on 2013. 



Tags: kesehatan,batuk & flu