Benarkah Virus COVID-19 Bermutasi? Lindungi Dirimu dengan Ini!

Goapotik
Publish Date • 11/15/2021
Share
Benarkah Virus COVID-19 Bermutasi? Lindungi Dirimu dengan Ini!

Tahukah kamu? Sars-Cov – 2 virus yang menyebabkan infeksi COVID-19 diketahui telah mengalami mutasi, peneliti dari UK dan US telah mengidentifikasi hingga ratusan tipe mutasi virus ini.  Virus mengalami mutasi secara alamiah, mutasi yang paling berbahaya ialah perubahan pada protein “spike” yang menyebabkan virus lebih mudah menginfeksi sel inang. Namun, dari temuan awal ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah coronavirus menjadi lebih berbahaya atau tidak. Pertanyaannya, apakah mutasi ini menjadikan virus lebih berbahaya dan apa pengaruhnya terhadap obat yang sedang dikembangkan? 



Dikutip dari The Guardian, Peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine meneliti lebih dari 5000 genom coronavirus yang berasal dari seluruh dunia, menemukan beberapa jenis mutasi yang merupakan bentuk adaptasi virus di dalam tubuh manusia, dua mutasi yang paling berbahaya ialah perubahan pada protein “spike” yang menyebabkan virus lebih mudah menginfeksi sel inang. Hal senada juga ditemukan oleh para peneliti dari Sheffield University Los Alamos National Laboratory di New Mexico. Namun, dari temuan awal ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah mutasi coronavirus menjadi lebih berbahaya atau tidak. 


Hasil uji lain disampaikan oleh University of Glasgow, menyebutkan bahwa mutasi ini tidak berpengaruh pada strain coronavirus. Mereka berkesimpulan, hingga saat ini hanya ada satu tipe coronavirus yang menyebabkan COVID-19. Dibandingkan dengan virus influenza, coronavirus menunjukan mutasi yang lebih lambat. 


Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Pengembangan Vaksin ? 

Dilansir dari BBC News, berbagai jenis vaksin yang sedang maupun sudah dikembangkan, sebagian besar memiliki mekanisme kerja dengan membuat tubuh mengenali protein “spike” yang ada di permukaan virus, sehingga sistem imun tubuh lebih mudah mengenali virus dan mengeliminasinya dari dalam tubuh. Adanya mutasi pada protein “spike”, dapat menyebabkan pengembangan vaksin menjadi kurang efektif. Hingga artikel ini ditulis, para peneliti belum memiliki cukup informasi yang dapat menjelaskan efek dari perubahan genom pada coronavirus apakah dapat menyebabkan virus menjadi lebih berbahaya atau tidak. 


Karakterisasi dan identifikasi dari mutasi Coronavirus sudah mencapai kemajuan yang cukup signifikan, namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Meskipun begitu, penerapan protokol kesehatan dan physical distancing harus tetap harus dilakukan ya Sowbat! 


Update COVID-19

Kita semua tau jika pandemi COVID-19 yang menyebabkan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau sindrom gangguan pernapasan akut telah terjadi selama lebih dari 18 bulan. Khususnya di Indonesia, rata-rata terdapat ribuan pasien yang membutuhkan perawatan intensif setiap harinya. Rata-rata tingkat kematian per hari pun tinggi di sejumlah negara, sehingga pandemi ini dinyatakan sebagai krisis kesehatan global yang besar.


Dilansir dari mdpi.com, menurut banyak ilmuwan dan profesional medis, kita masih jauh dari akhir pandemi. Untuk itu, kita harus lebih banyak belajar untuk dapat hidup berdampingan dengan virus selama beberapa tahun bahkan dekade lagi. Berdasarkan pernyataan tersebut, kemungkinan akan munculnya mutasi baru yang lebih menular dan mematikan sangat realistis. Peran vaksin yang saat ini sudah berkembang di masyarakat tidak menjadi penentu akan kekebalan imun seseorang terhadap virus COVID-19 di waktu yang akan datang. 

  

Serupa dengan infeksi virus lain seperti influenza, infeksi virus COVID-19 juga memiliki batas waktu akibat penggunaan vaksin. Terutama vaksin COVID-19 saat ini hanya berfokus untuk memicu respons sistem imun terhadap protein virus tunggal. Para ahli berasumsi jika perkembangan mutasi baru selanjutnya akan bersifat resisten terhadap vaksin yang sudah ada. Hal ini cukup membuktikan alasan mengapa pasien yang sudah divaksin tetap dapat terinfeksi virus COVID-19, sebab vaksin bukan satu-satunya cara untuk melindungi diri melainkan juga harus didukung oleh sistem kekebalan tubuh yang kuat.  

Baca juga: Virus Dengue Sudah Berevolusi! Cegah Penyebarannya Mulai Sekarang


Cara Meningkatkan Sistem Imun

Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan satu hal yang cukup penting dimiliki setiap orang di masa pandemi COVID-19 seperti yang telah dibahas sebelumnya. Lalu, bagaimana cara meningkatkan sistem imun yang tepat? 


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti independen di Jerman, mereka menemukan jika vitamin D3 adalah jawabannya. Saat ini yang perlu dimiliki setiap orang adalah sistem imun yang kuat, dan cara untuk meningkatkannya adalah melalui bantuan vitamin D3. 

Berikut adalah beberapa fungsi vitamin D3 yang para peneliti temukan untuk mendukung sistem kekebalan tubuh khususnya terhadap COVID-19:

  • Vitamin D dapat membantu menekan perkembangan peradangan dengan mengurangi generasi sitokin inflamasi

  • Vitamin D3 membantu mengurangi keparahan dari sindrom pelepasan sitokin yang dapat menyebabkan pasien COVID-19 mengalami “badai sitokin”

  • Vitamin D3 bertindak dengan melawan virus pernapasan

  • Dalam penelitian eksperimental yang dilakukan, sekelompok orang dengan Vitamin D menunjukkan kasus rendah terhadap infeksi yang parah

  • Vitamin D membantu mengurangi kelainan koagulasi pada pasien COVID-19 yang sedang kritis


Vaksin, gaya hidup sehat, dan menerapkan protokol kesehatan memang faktor penting untuk melindungi diri dari infeksi COVID-19, tetapi ternyata ketiga hal tersebut saja tidak cukup. Tubuh perlu bantuan dukungan vitamin D3 yang biasa juga digunakan untuk perawatan pasien autoimun. Tingkat Vitamin D3 yang baik dalam tubuh dapat mencegah keparahan dari infeksi virus COVID-19 yang akan terus bermutasi di masa yang akan datang. Untuk itu agar efektivitas vaksin dapat berhasil dengan baik, sebaiknya juga didukung oleh suplemen vitamin D3. Setidaknya usaha ini dapat mengendalikan penyebaran virus COVID-19 kepada orang dengan komorbid atau bayi yang sistem imunnya lemah.   

Baca juga: Terlalu Banyak Minum Vitamin saat Hamil? Pilih Multivitamin Terlengkap Ini Saja!


Penulis: Tim GoApotik


Referensi

Official Websites:

The Guardian, BBC

https://www.mdpi.com/2072-6643/13/10/3596/htm


Journal:

Journal titled, “Mutated COVID-19 may foretell a great risk for mankind in the future” by Dawood.A.A. Published by Elsevier: Science Direct (vol.35) on 2020.


Produk Terkait