Apakah Novel Coronavirus Lebih Fatal Daripada SARS, dan MERS Co-V?

Goapotik
Publish Date • 01/31/2020
Share image facebook goapotikimage twitter goapotikimage whatsapp goapotik
Apakah Novel Coronavirus Lebih Fatal Daripada SARS, dan MERS Co-V?
Apakah Novel Coronavirus Lebih Fatal Daripada SARS, dan MERS Co-V?

Sowbat, virus corona saat ini sedang menjadi topik kesehatan terhangat, karena kemunculannya yang tiba-tiba dan tingginya korban jiwa yang berjatuhan. Sudah terhitung sebanyak 9171 kasus infeksi Coronavirus terjadi di 21 negara. Virus ini sendiri sebenarnya masih satu keluarga dengan virus penyebab wabah SARS dan MERS yang juga menggemparkan dunia beberapa dekade lalu. Lantas, apa sajakah yang membedakan ketiga penyakit tersebut, dan virus manakah yang paling berbahaya? Hal tersebut akan kita bahas tuntas pada penjelasan di bawah ini.

 

Apa itu Novel Coronavirus?

2019-nCoV atau Novel Coronavirus adalah virus tipe baru yang ditemukan oleh peneliti Cina setelah jatuhnya korban meninggal akibat penyakit pneumonia yang tidak teridentifikasi penyebabnya. Infeksi misterius yang menyerupai pneumonia ini mulai mewabah di kota Wuhan, Cina, dan menyebar dengan cepat sejak Desember 2019 lalu. Melalui investigasi mendalam, akhirnya ditetapkanlah munculnya virus baru dengan genom yang menyerupai virus corona penyebab SARS dan MERS. Badan kesehatan setempat pun berspekulasi bahwa inang yang menyebarkan virus ini adalah hewan-hewan liar yang secara bebas dijual di Pasar Seafood Huanan di Wuhan.

Hingga saat ini, negara-negara yang telah mengalami outbreak virus tersebut adalah, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Vietnam, Singapura, Malaysia, Nepal, Perancis, Australia, Kanada, Jerman, Kamboja, India, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Finlandia, Italia, Arab Saudi, Hongkong & Makau. Penyebaran virus yang cepat ini tentunya membuat badan kesehatan negara di seluruh dunia langsung siaga. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menyatakan bahwa wabah Novel Coronavirus dianggap sebagai darurat kesehatan global. Hal ini disebabkan karena terus meningkatnya jumlah negara yang terjangkit virus ini serta tingginya total kematian akibat infeksi Coronavirus. Tercatat sejumlah 213 kematian terjadi dari total lebih dari 8100 kasus infeksi di Cina.

 

Perbedaan Novel Coronavirus, SARS Co-V, dan MERS Co-V

Wabah virus corona sebenarnya sudah tidak awam bagi masyarakat dunia. Pada 2003 silam, infeksi Coronavirus antar-manusia pertama mengejutkan badan kesehatan dunia. Kemudian, pada 2012 virus mematikan mewabah di timur tengah, yang dikenal juga sebagai flu unta, akibat MERS Coronavirus (Middle East respiratory syndrome Coronavirus). Agar tidak membingungkan Sowbat, berikut poin perbedaan antara Novel Coronavirus, SARS Co-V, dan MERS Co-V.


1. Novel Coronavirus


  • Waktu & Lokasi Wabah Pertama: Desember 2019 di Wuhan, Cina

  • Hewan Penyebar: Diduga ular dan kelelawar

  • Kategori berdasarkan cara infeksi: Zoonotik (dari hewan ke hewan), dugaan menular ke manusia akibat konsumsi hewan terinfeksi

  • Gejala umum: demam, batuk, kelelahan, sakit tenggorokan, sakit kepala, hemoptisis, dan diare

  • Kasus atau prevalensi penyakit: 9171 kasus infeksi, dan 213 kematian.


2. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV)


  • Waktu & Lokasi wabah pertama: 2012, di Timur Tengah

  • Hewan Penyebar: Kelelawar ke musang

  • Kategori berdasarkan cara infeksi: Zoonotik (dari hewan ke hewan), Human Coronavirus (hewan ke manusia, lalu manusia ke manusia)

  • Gejala umum: Menggigil, demam, batuk kering, sakit di bagian dada, diare

  • Kasus atau prevalensi penyakit: 8098 kasus infeksi, dan 777 kematian (2002-2003)

  • Tingkat kematian: sekitar 10%


3. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV)


  • Waktu & Lokasi wabah pertama: November 2002, di China

  • Hewan Penyebar: Kelelawar ke unta

  • Kategori berdasarkan cara infeksi: Zoonotik (dari hewan ke hewan), Human Coronavirus (hewan ke manusia, lalu manusia ke manusia)

  • Gejala umum: Demam, batuk, gangguan pernapasan akut, diare

  • Kasus atau prevalensi penyakit: 2206 kasus infeksi di seluruh dunia. 1831 kasus infeksi dan 787 kematian di Arab Saudi (Juni 2012 - April 2018)

  • Tingkat kematian: sekitar 37%


Baca juga:

Cegah Wuhan Pneumonia, Wabah Baru yang Menghantui Dunia

Novel Coronavirus yang Mematikan, Ternyata Belum Ada Obatnya!

Teror Infeksi Kencing Tikus (Leptospirosis) Saat Banjir Melanda


Lebih Berbahaya Virus yang Mana?

Berdasarkan pernyataan dokter spesialis penyakit dalam sekaligus pakar penyakit infeksi dan tropis, dr. Erni Juwita Nelwan, Wuhan Coronavirus tidak mematikan karena bukan Human Coronavirus yang sebernarnya. Human Coronavirus memang umumnya bersifat lebih agresif dan menginfeksi lebih cepat antar manusia. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Coronavirus termasuk dalam kategori zoonotik atau penyakit yang biasanya menular dari hewan ke hewan, sehingga tidak terlalu berefek besar pada manusia.

Novel Coronavirus dianggap mematikan sifat penularannya yang sangat cepat. Namun, kasus kematian yang tercatat tidak sebanyak dampak infeksi SARS dan MERS. Selain itu, kasus meninggal dunia akibat 2019-nCOV biasanya terjadi pada pasien yang  memiliki riwayat penyakit lain, seperti defisiensi imun, diabetes, dan lupus. Kendati demikian, infeksi Novel Coronavirus cenderung lebih cepat menyebar berdasarkan laporan kasus di seluruh dunia. Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) juga menambahkan bahwa Coronavirus dapat menular hanya dalam waktu inkubasi hingga 14 hari. Kecepatan masa inkubasi dan penyebaran ini lah yang mengindikasikan bahwa virus memiliki kemampuan menyebar yang semakin kuat. Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat Indonesia tetap waspada terhadap risiko infeksi penyakit ini, walaupun virus belum outbreak ke dalam negeri.


Terus waspada dengan kondisi kesehatan dan lingkunganmu ya, Sowbat! Lakukan langkah pencegahan virus corona mulai dari rutin mencuci tangan sampai bersih, memakai masker untuk menyaring kotoran dan mikroorganisme, serta menjaga daya tahan tubuh dengan nutrisi lengkap serta suplemen peningkat imunitas, terutama ketika kamu bepergian ke daerah-daerah yang terjangkit virus.

 



References: Liputan 6, Kompas, Tempo, Merdeka.com, National Geographic Grid, CNBC Indonesia