Kesehatan

Publish date : 11/22/2019

Infeksi bakteri, jamur, virus, dan parasit memang dapat menyerang siapa saja. Setiap orang pasti pernah mengalami penyakit infeksi setidaknya satu kali selama hidupnya. Bahkan rasanya semua orang pasti pernah mengalami jerawat, flu, batuk, dan demam, bukan? Penyakit infeksi sendiri sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya berkat pertolongan sistem imun kita. Hanya saja, beberapa jenis infeksi memang masih perlu ditangani dengan bantuan obat antibiotik. 



WHO Cetuskan Bulan Kesadaran Antibiotik


Tanggal 18-24 November 2019 ditandai sebagai minggu kesadaran antibiotik sedunia lho, Sowbat. Kampanye ini dicetuskan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia dalam pencegahan resistensi antibiotik dan penggunaannya secara bijak. Pentingnya hal ini didorong oleh pernyataan WHO terkait masuknya kasus resistensi antibiotik dalam daftar ancaman kesehatan terbesar di dunia. UN Interagency Coordination Group juga memprediksi bahwa, pada tahun 2050 mendatang 10 juta kasus kematian akibat resistensi antibiotik dapat terjadi, bahkan dapat berdampak pada kerusakan ekonomi jika tidak ditangani sesegera mungkin.




Apa Itu Resistensi Antibiotik dan Mengapa Berbahaya?

Tahukah kamu bahwa bakteri bisa menjadi kebal jika penanganannya tidak tepat dan sempurna? Ketika kamu menghentikan pengobatan sebelum seluruh bakteri mati, sisanya akan membentuk sistem pertahanan diri pada lingkungan tersebut, seperti halnya pada kemampuan adaptasi makhluk hidup. Sehingga, ketika terdapat perlawanan dari obat serupa bakteri tersebut dapat bertahan hidup. Hal inilah yang kita sebut sebagai resistensi antibiotik.

Masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik awalnya ditemukan pada tahun 1980-an pada jenis bakteri Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan lainnya. Bakteri dapat menjadi resisten melalui beberapa cara, di antaranya:

1. Bakteri dapat menguraikan antibiotik secara alami melalui zat yang dihasilkannya

2. Bakteri dapat mempertahankan bagian tubuhnya agar tidak dimasuki oleh obat

3. Terjadinya mutasi pada bakteri yang dapat beradaptasi untuk melawan efek obat

4. Bakteri yang resisten menularkan kemapuannya melawan obat pada bakteri lain secara genetik


Resistensi antibiotik sebenarnya dapat menyerang siapa saja, dan banyak faktor yang mempengaruhi pola penyebarannya. Hal ini bahkan bisa terjadi pada orang yang tidak pernah menggunakan antibiotik sekali pun. Resistensi umumnya diawali dengan mengonsumsi antibiotik tidak pada jadwal yang sesuai dan tidak dihabiskan. Nah, kebiasaan menyepelekan aturan pakai obat seperti inilah yang justru berujung fatal, Sowbat. Karena itu, kamu harus selalu waspada dalam menggunakan antibiotik dan menerapkan tips pencegahan yang dianjurkan oleh WHO. Simak uraiannya di bawah ini, yuk!

1. Hanya gunakan antibiotik ketika diresepkan oleh dokter dan ahli kesehatan

2. Jangan gunakan antibiotik jika tidak diperlukan. Ingat! Hanya dokter dan ahli kesehatan yang dapat menganjurkan

3. Selalu ikuti anjuran dokter dan ahli kesehatan dalam penggunaan antibiotik

4. Jangan menggunakan antibiotik sisa, dan jangan membagikan antibiotik pada siapa pun

5. Cegah penyakit infeksi dengan rutin mencuci tangan, menyiapkan makanan dengan higienis, hindari kontak dengan orang yang sedang sakit, dan lakukan vaksinasi


Dengan lebih bijak menggunakan obat, kamu akan terhindar dari bahaya resistensi antibiotik yang menghantui. Yuk, lebih peduli dan ajak orang-orang terdekatmu selalu memerhatikan aturan penggunaan obat yang tepat! Handle your antibiotic with care, Sowbat!



Konsultasi Penggunaan Obat Aman, Tanpa ke Apotek




Referensi: HelloSehat, World Health Organization, Kompas




Tags: Antibiotik,resistensi antibiotik,minggu kesadaran antibiotik