Minum Antibiotik Sembarangan Berbahaya!

Goapotik
Publish Date • 12/30/2020
Share image facebook goapotikimage twitter goapotikimage whatsapp goapotik
Minum Antibiotik Sembarangan Berbahaya!

Tahukah Sowbat bila konsumsi antibiotik (contohnya amoksisilin, cefadroxil) sembarangan sangat fatal akibatnya? Apakah Sowbat pernah minum amoksisilin saat mengalami sakit ringan seperti flu, demam atau radang tenggorokan tanpa menemui dokter terlebih dahulu? Jika iya berarti Sowbat sekalian telah melakukan kesalahan fatal karena hal ini dampaknya sangat berbahaya bagi Sowbat atau orang lain di kemudian hari, loh!


Selain efek samping obat, resistensi antibiotik juga dapat terjadi akibat konsumsi antibiotik sembarangan. Ada beberapa penyebab resistensi obat terjadi, salah satunya adalah penggunaan obat yang salah. Resistensi antibiotik adalah keadaan dimana mikroba atau bakteri berubah dan membuat obat menjadi tidak efektif untuk digunakan sebagai terapi infeksi bakteri tersebut. Keadaan ini membuat infeksi semakin sulit ditangani. 

Antibiotik atau antibakteri adalah jenis obat keras yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik bisa membunuh atau memperlambat laju pertumbuhan bakteri dalam tubuh. Antibiotik sendiri dapat dibagi menjadi beberapa golongan tergantung mekanisme kerja dan juga jenis bakteri yang bisa dilawan. Setidaknya ada 5 mekanisme kerja antibiotik melawan bakteri, antara lain dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri, menghambat sintesis protein, mengubah membran sel, menghambat sintesis asam nukleat dan dengan aktivitas antimetabolit.


Perbedaan Antibiotik dan Antivirus

Sebagai orang non-medis mungkin Sowbat tidak perlu tahu bagaimana cara kerja obat dalam tubuh, namun yang wajib diketahui bahwa tidak semua penyakit yang disebutkan di atas disebabkan oleh bakteri. Flu dan demam ringan biasanya disebabkan oleh virus, jadi merupakan kesalahan besar jika mengonsumsi antibiotik untuk kasus tersebut apalagi tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Perlu dipahami bahwa bakteri dan virus adalah mikroorganisme yang jauh berbeda. Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu yang berkembang biak dengan cara membelah diri dan hidup di sekitar kita, hanya sedikit yang sifatnya berbahaya bagi manusia. Sedangkan virus adalah mikroorganisme yang ada pada perbatasan makhluk hidup dan benda mati, ia membutuhkan inang untuk berkembang biak, bersifat parasit serta dapat menginfeksi sel-sel makhluk hidup. Sifat, cara hidup, struktur dan ukuran di antara keduanya berbeda sehingga saat terinfeksi perlu cara terapinya yang berbeda.

Bila bakteri diatasi dengan antibiotik/antibakteri, maka virus diatasi dengan antivirus. Penyakit seperti flu ringan yang disebabkan oleh virus biasanya tidak diberikan antivirus karena dapat sembuh dengan sendirinya. Antivirus juga dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan sehingga jarang diberikan bila infeksinya tidak serius atau mengancam nyawa seperti pada kasus HIV/AIDS. Baik antibiotik dan antivirus merupakan golongan obat keras yang berisiko, hanya digunakan bila dokter sudah mendiagnosis penyebab penyakit secara tepat.


Resistensi Antibiotik

Obat hanya bermanfaat saat Sowbat mengkonsumsinya dengan dosis dan tujuan yang tepat, begitu pula antibiotik. Sama seperti obat lainnya, antibiotik dapat menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan saat dikonsumsi beberapa orang. Efek ringan seperti mual, muntah dan pusing biasanya lazim dirasakan pada beberapa pengobatan. Walaupun obat-obatan ini aman dikonsumsi dengan indikasi yang tepat, efeknya bisa sangat fatal jika sembarangan mengkonsumsinya yang disebut resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik adalah keadaan dimana mikroba atau bakteri berubah dan membuat obat menjadi tidak efektif untuk digunakan sebagai terapi infeksi bakteri tersebut. Keadaan ini membuat infeksi semakin sulit ditangani, biaya pengobatan meningkat, terapi semakin lama dilakukan serta risiko kematian yang juga meningkat.

Resistensi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya penggunaan obat berlebihan dan sembarangan, di banyak negara obat ini bisa dibeli siapapun tanpa resep dokter bahkan ada yang dijual online, regulasi pemerintah yang tegas terhadap jual-beli obat-obatan ini memainkan peranan penting dalam mengatasi resistensi obat antibiotik. Selanjutnya adalah peresepan obat yang tidak tepat berkontribusi pada masalah ini. Studi menunjukkan bahwa indikasi pengobatan, pilihan obat, atau durasi terapi antibiotik yang tidak tepat terjadi pada 30% hingga 50% kasus di Amerika Serikat. Penyebab ketiga adalah penggunaan antibiotik sebagai suplemen pada hewan ternak, di Amerika Serikat sekitar 80% antibiotik dijual untuk  kebutuhan ternak, sebagai suplemen peningkat pertumbuhan dan mencegah terjadinya infeksi. Sehingga daging hewan ternak yang Sowbat makan mungkin saja mempengaruhi dalam kasus ini. Selain itu di Amerika Barat dan Selatan menggunakan tetrasiklin dan streptomisin sebagai pestisida untuk buah-buahan.

Penyebab terakhir adalah penemuan atau pengembangan antibiotik baru yang sangat jarang, dimana untuk menemukan suatu obat baru perlu waktu yang lama dengan biaya yang sangat besar. Dari segi ekonomi pengembangan dan penemuan antibiotik bukanlah investasi yang menguntungkan bagi industri Farmasi karena penggunaannya pada pengobatan untuk jangka waktu yang relatif pendek dan bersifat kuratif, tidak seperti obat untuk penyakit kronis (diabetes, asthma, dsb.) dimana penggunaannya dalam jangka waktu lama yang bisa diproduksi dalam jumlah besar sehingga keuntungannya pun tinggi. Sulitnya mendapat persetujuan obat baru secara regulasi juga menjadi salah satu penghambat industri Farmasi dalam hal ini. Di sisi lain, saat obat baru dipasarkan, dokter pasti akan meresepkan obat generasi lama yang sama efekasinya serta lebih murah, sedangkan antibiotik baru dijadikan pilihan terakhir untuk mengatasi penyakit yang lebih serius. Namun walaupun obat baru ditemukan, jika kebiasaan konsumsi antibiotik sembarangan tidak bisa dihilangkan maka akan membuat resistensi antibiotik semakin memburuk.

Resistensi antibiotik sudah diprediksi oleh Alexander Flemming, penemu antibiotik Penisilin, ia mengatakan “public will demand [the drug and] … then will begin an era … of abuses” yang dapat diartikan, bila produksi antibiotik dilakukan besar-besaran (permintaan pasar besar), maka penyalahgunaannya pun semakin banyak terjadi dan terjadilah resistensi. Menurut laporan tahun 2019 The Center for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, tiap tahunnya lebih dari 2,8 juta kasus infeksi resisten antibiotik terjadi di sana, dan lebih dari 35.000 orang meninggal akibat kasus tersebut. Di Indonesia sendiri Sowbat bisa membeli antibiotik tanpa resep dokter, tanpa ada petunjuk yang jelas dari tenaga kesehatan terutama Apoteker bagaimana cara pemakaiannya.

Upaya yang bisa Sowbat lakukan untuk menghindari resistensi antibiotik menurut WHO adalah dengan konsumsi antibiotik hanya bila diresepkan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter, apoteker), selalu gunakan antibiotik sesuai dengan petunjuk tenaga kesehatan (dosis, durasi, kapan dikonsumsi, pantangan-pantangan), jangan bagikan sisa antibiotik dengan orang lain sekalipun keluarga Sowbat sendiri, cegah infeksi dengan rutin mencuci tangan, mempersiapkan makanan secara higienis, hindari kontak dengan orang sakit, hindari seks bebas, dan lakukan vaksinasi.

Bagi Sowbat yang mengalami sakit ringan sebaiknya menghindari penggunaan obat keras (termasuk antibiotik) dalam pengobatan, lebih baik jika banyak mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Jika mengalami gejala seperti sakit kepala dan demam bisa membeli obat bebas yang membantu meringankan gejala tersebut. Penggunan antibiotik yang tidak tepat hanya akan merugikan, maka itu sebaiknya Sowbat berhati-hati. Hal ini juga berlaku untuk obat-obat lainnya, Sowbat dapat meminta informasi obat-obatan pada dokter atau apoteker di Apotek terdekat.


Referensi

Official Website:

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Basic Mechanisms of Antibiotic Action and Resistance, National Center for Biotechnology Information (NCBI), Kompas