Gaya Hidup

Publish date : 01/06/2020

Teror Infeksi Kencing Tikus (Leptospirosis) Saat Banjir Melanda


Suasana tahun baru 2020 nyatanya tidak seindah yang masyarakat Indonesia bayangkan. Hujan deras yang melanda tanpa henti sejak sore di hari terakhir 2019 hingga berganti menjadi tahun baru 2020, menyebabkan aktivitas dan liburan jadi terhambat. Efek hujan ini membuat banjir terjadi di sebagian besar dataran negeri. Pada beberapa daerah, banjir bahkan mencapai setinggi orang dewasa, dan menyebabkan banyak korban jiwa serta kerugian besar. Hujan bahkan masih aktif mengguyur kota beberapa kali, sehingga banjir yang sudah surut kembali menggenang. 



Kondisi banjir pastinya merugikan banyak pihak. Kamu mungkin menjadi salah satu saksi ataupun korban dari banjir yang melanda ini. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari dan kerugian properti, berbagai penyakit pun mewabah layaknya sedang berpesta. Serangan infeksi seperti diare, kutu air, flu dan batuk, serta penyakit kulit lainnya pun tentu sulit dihindari oleh para korban banjir. Dari sampah, kotoran, hingga hewan-hewan pengerat seperti tikus pun menggenang di mana-mana. Inilah penyebab-penyebab utama penyakit infeksi yang bermunculan. Kamu mungkin juga sering mendengar istilah sakit kencing tikus. Sebenarnya apa sih bahaya dan dampak kotoran atau urin tikus? Dan bagaimanakah penanganannya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini biar kamu lebih paham!


Apa Itu Leptospirosis dan Penyebabnya?

Infeksi akibat kotoran ataupun urin tikus dan hewan pengerat secara ilmiah disebuh sebagai leptospirosis. Penyakit ini sebenarnya tidak hanya berasal dari kotoran hewan yang terinfeksi, namun bisa juga dari darah dan jaringannya. Infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri bernama Leptospira interrogans. Bakteri ini bahkan dapat pula ditularkan dari hewan lain seperti, sapi, babi, anjing, reptil dan lainnya. 


Bagaimana Leptospirosis Ditularkan?

Leptospira interrogans umumnya hanya ditularkan dari hewan ke manusia, dan sangat jarang menular antar manusia. Penularannya pun seringkali melalui paparan darah dan kotoran hewan yang terinfeksi secara langsung, maupun melalui medium seperti tanah, rumput, dan air. Bakteri menginfeksi tubuh dengan masuk melalui luka terbuka pada kulit, lecet, ataupun kulit kering, dan melalui lapisan mukosa seperti rongga hidung, mulut, dan mata. Ketika banjir, air yang menggenang (baik kotor maupun bersih) seringkali terkontaminasi oleh bakteri ini. Oleh karena itu, kasus leptospirosis lebih umum terjadi di negara-negara beriklim sedang dan tropis, seperti di daerah Asia Tenggara yang sering banjir dan Amerika Selatan, terutama di daerah-daerah dengan lingkungan dan sanitasi yang cenderung tidak terjaga kebersihannya.


Apa Saja Gejala Leptospirosis?

Dampak dari infeksi biasanya baru dirasakan beberapa hari setelah bakteri memasuki tubuh, bahkan pada beberapa orang tidak muncul gejala yang signifikan. Maka dari itu, secara garis besar gejala leptospirosis dibagi menjadi dua fase. Pada fase pertama gejala yang muncul belum berat, namun umumnya akan muncul mendadak setelah 5-7 hari bakteri menginfeksi. Gejala-gejala tersebut di antaranya:

1. Mual dan Muntah

2. Demam atau Meriang disertai sakit kepala

3. Diare

4. Perut melilit

5. Nyeri otot

6. Muncul ruam-ruam

7. Kulit maupun sclera (area putih pada mata) nampak menguning

8. Konjungtivitis

Gejala fase pertama akan mereda dengan bantuan sistem pertahanan tubuh. Namun, 1-2 minggu kemudian gejala fase kedua yang lebih berat akan muncul, karena bakteri umumnya cukup kuat menyerang sistem pertahanan alami. Saat memasuki fase kedua, akan muncul gejala-gejala yang perlu diwaspadai seperti:

1. Demam disertai kulit dan selaput mata menguning (jaundice)

2. Bengkak-bengkak pada kaki dan tangan

3. Nyeri dada

4. Detak jantung berdebar dan tidak teratur (tanda serangan pada organ jantung)

5. Batuk berdarah dan sulit bernapas (tanda serangan pada sistem pernapasan)

6. Urin berkurang (tanda serangan pada ginjal)

7. Linglung, sulit mengontrol tubuh, dan sensitif cahaya (tanda serangan pada otak)


Seberapa Bahaya Dampak Leptospirosis?

Infeksi ini dapat menyerang semua usia dan tidak bisa dianggap sepele. Sepanjang tahun 2018 lalu, sebanyak 89 orang dari 427 kasus leptospirosis di Jawa Tengah dinyatakan meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Bakteri ini dapat menyebar melalui aliran darah dan sistem getah bening, sehingga sangat berbahaya bagi fungsi organ-organ dalam tubuh. Tanpa penanganan segera, leptospirosis dapat memicu kondisi serius dan fatal di antaranya:

1. Gagal ginjal

2. Meningitis (radang selaput membran pada otak dan sumsum tulang belakang)

3. Gangguan hati

4. Gangguan paru-paru berat

5. Gagal jantung dan miokarditis (radang selaput jantung)


Bagaimana Cara Penanganannya?

Ketika kamu dalam kondisi banjir, berada di daerah dengan linkungan dan sanitasi kotor, daerah berlumpur di dekat lahan pertanian dan peternakan, atau area-area dengan faktor risiko lainnya, sikap waspada tentu sangat diperlukan. Segera lakukan pengecekan ke dokter dengan testing dan diagnosa yang lengkap, ketika gejala-gejala pada tahap satu mulai kamu rasakan. Dokter biasanya akan memberikan antibiotik, disertai dengan obat pereda gejala dan obat penunjang lainnya. Singkat kata, jangan tunda-tunda diagnosa penyakit hingga komplikasi serius terjadi, Sowbat! Dan tentunya, hindari kondisi dan lingkungan yang memberikan faktor risiko infeksi leptospirosis, ya. Saat banjir, gunakan boots karet, sarung tangan, dan masker, untuk mencegah paparan infeksi penyakit yang tidak diinginkan.


References: Center of Disease Control and Prevention, HelloSehat, Alodokter, CNN Indonesia, Kompas




Tags: Leptospirosis