Kesehatan

Publish date : 05/31/2021

Pernahkah Sowbat mengalami sakit perut melilit berhari-hari karena diare? Rasanya, semua orang baik orang dewasa maupun anak-anak pernah mengalami sakit ini setidaknya sekali. Ada yang ringan atau cepat berhenti karena minum obat oralit, tetapi ada juga yang berat hingga harus melakukan perawatan di Rumah Sakit. Apakah Sowbat ingat diare saat itu terjadi karena memang sakit diare yang bisa terjadi berhari-hari atau diare karena penyakit tertentu yang hanya dialami di awal sebelum sakit? Wah, ternyata ada lho penyakit yang dimulai dengan diare terlebih dahulu sebagai gejalanya. Salah satunya, penyakit mematikan!

 

Apa Itu Diare?

Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan buang air besar berkali-kali (tiga atau lebih) dalam sehari dengan konsistensi feses encer dan berair. Diare bisa disebabkan oleh beberapa alasan, mulai dari mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan, infeksi mikroorganisme ataupun penyakit lainnya seperti intoleransi laktosa. Selengkapnya mengenai penyebab diare, simak terus artikel ini ya.

Saat diare, tubuh akan kehilangan cairan yang cukup banyak, dan jika cairan yang keluar sangat banyak, tubuh akan mengalami dehidrasi. Sama halnya dengan diare, dehidrasi juga bisa dikategorikan menjadi dehidrasi ringan sedang dan dehidrasi berat. Gejala dehidrasi ringan mungkin hanya ditandai dengan bibir terasa kering dan lengket, tetapi untuk dehidrasi berat gejalanya bisa sampai kejang dan penurunan kesadaran. Maka dari itu Sowbat tidak boleh meremehkan kedua penyakit ini.

 

Gejala Diare

Seperti yang sudah sedikit disebutkan di atas, secara umum gejala diare adalah perut terasa mulas seperti melilit bahkan bisa disertai kram perut, feses encer dan ada juga yang sampai berdarah, pusing, demam, mual, muntah, dehidrasi serta tubuh terasa lemas. Jika dilihat menurut durasinya, diare dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu diare akut yang terjadi kurang dari 2 minggu, diare persisten antara 2 sampai 4 minggu, dan diare kronis yang terjadi lebih dari 4 minggu.

 

Penyebab Diare

Benarkah diare disebabkan oleh gaya hidup yang buruk? Besar kemungkinan gaya hidup merupakan faktor utama penyebab penyakit ini. Beberapa penyebab seperti konsumsi makanan pedas dan berlemak, asupan gula berlebih, kafein tinggi, bahkan orang yang mengalami intoleran laktosa seperti susu dapat menjadi pemicu terjadinya diare. Namun, tidak semua orang akan mengalami diare setelah mengonsumsi makanan dan minuman yang menjadi pemicu diare seperti yang disebutkan tadi, sebab kondisi dan daya tahan tubuh setiap orang berbeda-beda.

Baca juga: Mengapa Terkadang Susu Membuat Perut Tak Nyaman?

Hal terpenting yang dapat dipastikan menjadi penyebab diare akan dijelaskan melalui ilmu medis. Menurut dunia kesehatan, penyebab diare dapat dikelompokkan menjadi tiga atau banyak bagian berdasarkan jenis infeksinya. Pertama, infeksi parasit (Cryptosporidium, Cyclospora, Entamoeba histolytica, Giardia, dan Microsporidia). Kedua, infeksi bakteri (Aeromonas, Campylobacter, Clostridium difficile,E. coli, Plesiomonas, Salmonella,dan Shigella). Ketiga, infeksi virus (norovirus dan rotavirus). Serta kondisi tertentu yang tidak diketahui penyebabnya (diare Brainerd). Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan BAB (Buang Air Besar) 10 hingga 20 kali/hari bahkan bisa terjadi berminggu-minggu atau bahkan tahunan.

 

Penyakit dengan Gejala Diare

Setelah mengetahui apa itu diare, bagaimana gejala diare, dan apa saja penyebab diare, ternyata diare bisa disebabkan karena berbagai hal. Fakta menarik lainnya adalah ternyata diare bisa juga digunakan sebagai gejala atas penyakit tertentu. Beberapa penyakit yang mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit akan ditandai dengan diare terlebih dahulu. Begitu pula dengan penyakit autoimun seperti penyakit celiac, gejalanya akan ditandai dengan diare meskipun beberapa orang merasa tidak mendapatkan gejala.

Walaupun tidak selalu terjadi, Sowbat tetap perlu waspada akan hal ini. Diare bisa menjadi tanda dari penyakit lainnya apalagi bila diare yang Sowbat alami adalah diare kronis. Dan, berikut adalah 3 jenis penyakit yang ditandai dengan gejala diare:

 

1. Kanker

Beberapa jenis kanker atau tumor dapat menyebabkan diare seperti pada kasus tumor neuroendokrin, kanker usus, limfoma, karsinoma meduler kelenjar tiroid, dan kanker pankreas. Pada kasus kanker usus misalnya, akan timbul benjolan di daerah usus yang menyebabkan penyerapan air di usus terganggu sehingga terjadilah diare. Kemoterapi untuk kanker juga biasanya dapat menimbulkan efek samping diare.

Baca juga: 5 Jenis Kanker yang Bisa Menjadi Silent Killer si Kecil, Waspadai Gejalanya!

 

2. Hipertiroid

Hipertiroid adalah keadaan saat meningkatnya sintesis dan sekresi hormon tiroid dari kelenjar tiroid secara abnormal. Penyakit ini bisa menimbulkan berbagai gejala seperti penyakit gondok, jantung berdebar, sering berkeringat, berat badan menurun, tulang keropos dan juga gangguan pencernaan yaitu diare. Hipertiroid merangsang stimulasi berlebihan saraf simpatis pada usus menyebabkan peningkatan motilitas sehingga terjadi malabsorpsi dan diare.

 

3. Penyakit autoimun

Penyakit autoimun adalah keadaan saat sistem imun menyerang dan membahayakan jaringan tubuh si penderita. Penyakit ini dapat memengaruhi setiap bagian tubuh termasuk pada saluran pencernaan. Pada salah satu penyakit autoimun yaitu Behçet's disease, terjadi kerusakan pembuluh darah di seluruh tubuh, terutama vena yang dapat bermanifestasi pada saluran pencernaan Sowbat, sehingga menimbulkan mual, muntah hingga diare yang berdarah. Penyakit autoimun lainnya seperti Churg-Strauss, penyakit Kawasaki, penyakit celiac, dan Takayasu arteritis juga mempunyai gejala diare.

 

Cara Menangani Diare

Diare mungkin adalah penyakit ringan dan tidak terlalu berbahaya menurut Sowbat, tetapi jika diare yang dialami cukup berat dan dibiarkan tanpa pengobatan maka akan menjadi berbahaya. Pencegahan adalah salah satu hal yang perlu Sowbat lakukan untuk menghindari diare, seperti selalu memerhatikan kebersihan makanan dan alat makan, kemudian selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan yang hendak dikonsumsi. Apabila diare sudah terjadi, hal terpenting yang harus Sowbat ingat adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi, karena cairan tubuh akan banyak dibuang saat BAB dan akan mengganggu fungsi tubuh lainnya secara normal. Sowbat dapat membuat larutan oralit untuk mengganti cairan tubuh yang keluar sebagai pertolongan pertama.

Namun, bagaimana jika diare terjadi pada anak balita? Bagaimana cara penanganannya yang tepat? Sebaiknya jangan terburu-buru untuk memberi obat jika tidak tahu kandungan obat tersebut dan kondisi balita saat itu. Sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat. Sebagai pertolongan pertama ketika di rumah berikut adalah ilustrasi yang berisi informasi penting tentang apa saja yang dapat dilakukan orang tua ketika anak balitanya mengalami diare menurut Kemenkes RI.

Pencegahan Dehidrasi saat Diare pada Balita

 

Maka dari itu saat diare terjadi dan untuk memastikan apakah Sowbat  mengalami diare ringan atau berat, Sowbat perlu melakukan pemeriksaan ke dokter. Cari tahu juga apa yang jadi penyebab penyakit yang menyerang sistem pencernaan khususnya usus besar ini. Sebaiknya Sowbat tidak membeli dan mengonsumsi obat-obatan yang belum dianjurkan oleh dokter. Beberapa jenis obat mungkin tidak cocok untuk mengatasi jenis diare yang sedang Sowbat alami.

Selain itu, perhatikan juga jenis makanan atau minuman yang akan Sowbat konsumsi. Pastikan konsumsi makanan sehat dan minuman yang mengandung bakteri baik dengan tetap menjaga kebersihannya. Untuk membantu mengatasi diare yang tak kunjung henti, selain larutan oralit, Sowbat dapat mengonsumsi makanan rendah serat, jus buah, maupun teh chamomile.

 

Penulis: Tim Goapotik


References

Official Website:

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Ethical Digest, Mayo Clinic, NCBI, Health Harvard

Kenali Diare Pada Anak dan Cara Pencegahannya, https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/tips-sehat/20170403/4620310/kenali-diare-anak-dan-cara-pencegahannya/



Tags: diare,kanker,hipertiroid,penyakit autoimun,dehidrasi