Kesehatan

Publish date : 07/07/2021

Apakah Sowbat tahu apa perbedaan antara hipertensi dan hipotensi? Mungkin Sowbat sudah familiar dengan hipertensi, apa itu hipertensi, penyebabnya, bahkan cara mencegah hipertensi. Namun, bagaimana dengan hipotensi? Ternyata penyakit ini juga sama bahayanya dengan hipertensi. Yuk, pelajari keduanya melalui artikel berikut ini.

 

Ciri-ciri Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi saat tubuh terlalu banyak memompa darah ke pembuluh arteri. Jika dibiarkan kondisi ini dapat mengancam jiwa seperti terjadi penyakit jantung dan stroke. Menurut mibluesperspectives.com, seseorang dapat dikatakan hipertensi jika tekanan darahnya mencapai 130/80 mmhg atau lebih tinggi.

Sebagai gambaran betapa seriusnya penyakit ini, hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang paling banyak dialami oleh orang Amerika atau sekitar 75 juta orang dewasa Amerika mengidap hipertensi. Menurut laporan kesehatan Amerika Blue Cross Blue Shield yang ditulis dalam mibluesperspectives.com, penyakit hipertensi merupakan kondisi kesehatan nomor satu yang diasuransikan oleh warga Amerika terutama yang berdomisili di Amerika Serikat bagian timur, tenggara, dan selatan.

Seperti penyakit kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi atau hipertensi juga merupakan penyakit 'diam', sehingga seringkali penderita hipertensi tidak menyadari jika tekanan darahnya sedang tinggi karena tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, terdapat beberapa kondisi yang dapat dikatakan sebagai faktor risiko dari hipertensi seperti faktor usia atau orang yang usianya sudah lebih dari 55 tahun, kelebihan berat badan, serta menjalani gaya hidup yang tidak sehat seperti malas bergerak, merokok, dan konsumsi minuman beralkohol.

Selain itu yang tidak kalah penting, hipertensi juga dapat disebabkan oleh faktor riwayat kesehatan. Sowbat perlu ketahui apakah terdapat anggota keluarga yang mengidap hipertensi, penyakit jantung, atau diabetes. Sehingga sangat penting bagi mereka untuk mengukur tekanan darah secara rutin, misalnya setiap pagi hari. Hal ini dilakukan untuk mencegah tekanan darah yang terlalu tinggi dan dapat berdampak pada kesehatan lainnya seperti penyakit jantung dan stroke.

Menurut pasien hipertensi, beberapa kondisi ini sering mereka rasakan:

  • Sakit kepala

  • Kelelahan dan merasa bingung

  • Mengalami masalah pengelihatan

  • Nyeri dada

  • Sulit bernafas

  • Detak jantung tidak teratur

  • Terdapat darah dalam urin

  • Berdebar di area dada, leher, atau telinga

 

Cara Mencegah Hipertensi

Jika tidak dilakukan perawatan yang tepat, maka hipertensi dapat memicu penyakit kronis lainnya seperti kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, penyakit arteri koroner, penyakit stroke, hingga gagal jantung. Menariknya, saat ini faktor risiko pada usia lanjut saja tidak sepenuhnya tepat, tetapi risiko hipertensi kian meningkat di antara orang dewasa muda. Mibluesperspectives.com mencatat jika pada tahun 2016 terdapat peningkatkan sebesar 19% dari tahun 2014 terhadap generasi milenial yang berusia 18-34 tahun dan didiagnosis menderita hipertensi serta harus konsumsi obat-obatan secara rutin. Pemicunya tidak lain adalah gaya hidup tidak sehat. Untuk mencegahnya sebaiknya jika Sowbat tegolong usia dewasa muda dapat dilakukan dengan mulai mengurangi konsumsi natrium, membatasi konsumsi kafein, dan berolahraga secara teratur atau luangkan waktu 30 menit di pagi hari dengan peregangan otot dan olahraga ringan sembari berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Gejala Hipotensi

Kebalikannya dengan hipertensi, hipotensi merupakan kondisi saat seseorang mengalami tekanan darah rendah atau ketika aliran darah tidak lancar dan tidak sepenuhnya mengalir ke otak, pembuluh arteri, dan organ tubuh lainnya. Biasanya penderita akan menunjukkan tekanan darah di bawah 120/80 mmhg atau rata-rata di angka 80. Sama halnya dengan hipertensi, hipotensi juga tidak menimbulkan gejala apapun, kecuali jika tekanan darahnya turun secara drastis dan tiba-tiba. Beberapa kondisi ini mungkin dirasakan pasien, seperti:

  • Pusing seperti berputar-putar

  • Pandangan kabur atau buram

  • Lesu dan lelah

  • Mual

  • Badan dingin dan lembap

  • Kulit pucat

  • Pingsan

 

Penyebab Hipotensi

Tidak seperti hipertensi yang dengan konsumsi natrium berlebih saja sudah menyebabkan tekanan darah tinggi. Penyebab hipotensi belum dapat ditentukan dengan pasti, apakah karena makanan, gaya hidup, atau penyakit penyerta. Namun, beberapa faktor berikut mungkin memiliki risiko tinggi untuk dapat menyebabkan hipotensi seperti kehamilan, masalah hormonal (hipotiroid, diabetes, dan gula darah rendah), akibat konsumsi obat bebas/resep tertentu (biasanya karena konsumsi obat penekan darah tinggi), riwayat gagal jantung, pelebaran pembuluh darah, serangan jantung, dan riwayat penyakit hati.

Baca juga: Kenapa Garam Dapat Menyebabkan Hipertensi?

Meskipun tidak dapat diketahui dengan pasti penyebab hipotensi, tetapi Sowbat tetap dapat melakukan beberapa hal berikut sebagai pencegahan untuk hipotensi seperti konsumsi makanan yang mengandung tinggi natrium jika sedang mengalami gejala hipotensi, menghindari tubuh kekurangan cairan dengan tetap terhidrasi minuman nonalkohol, dan melakukan olahraga secara teratur. Sebaiknya untuk mengetahui dengan pasti apakah Sowbat sedang mengalami hipotensi atau tidak, Sowbat dapat melakukan pemeriksaan ke dokter jika dirasa gejala hipotensi di atas sering muncul. Pemeriksaan ini juga berfungsi untuk mengetahui jenis hipotensi apa yang sedang Sowbat alami, misalnya hipotensi ortostatik. Kemudian ketahui perawatan yang tepat untuk menghindari kesalahan konsumsi obat yang dapat memicu timbulnya reaksi alergi.

 

Cara Cek Tekanan Darah di Rumah

Cara yang paling tepat jika Sowbat atau keluarga ada yang sedang menderita hipertensi maupun hipotensi sebaiknya melakukan perawatan rutin dengan memantau tekanan darah. Sowbat dapat melakukan pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter di rumah atau di klink kesehatan. Setelah itu lakukan beberapa hal berikut untuk mengetahui berapa tekanan darah normal Sowbat, apakah tergolong tinggi atau rendah.

CERAMAH (Cek Tekanan Darah di Rumah) - Direktorat P2PTM

Sesuai anjuran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di atas, untuk melakukan pemantauan tekanan darah ini secara rutin sebaiknya mulai hentikan kebiasan merokok, konsumsi minuman berkafein, dan berolahraga 30 menit setiap hari. Lakukan tes tekanan darah setiap hari dan pada waktu yang sama, misalnya setiap pagi Pk 06.00 atau malam sebelum tidur Pk 21.00. Apabila Sowbat melakukan pengecekan ini secara mandiri atau di rumah, sebaiknya catat hasilnya dan lakukan pengulangan tes jika hasilnya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Namun, jika hasilnya memang menunjukkan jika Sowbat mengalami hipertensi, segera konsumsi obat penurun tekanan darah tinggi sesuai rekomendasi dokter. Biasanya candesartan 16 mg diberikan untuk menurunkan lonjakan tekanan darah yang cukup tinggi pada pasien hipertensi. Kemudian, ketika akan melingkarkan alat tes di lengan, sebaiknya letakkan alat langsung menyentuh kulit untuk hasil yang lebih akurat.

Temukan di Goapotik: Harga Candesartan 16 mg

 

Penulis: Tim Goapotik


Sumber referensi:

Mibluesperspectives.com - Hypertension vs Hypotension: The High and Lows of Blood Pressure

Infografik (www.p2ptm.kemkes.go.id - CERAMAH: Cek Tekanan Darah di Rumah)



Tags: Hipertensi,Hipotensi,Tekanan Darah